siswa menulis

Berawal Dari Impian Masa Kecil

“Salah satu amal yang tidak akan terputus yaitu ilmu yang bermanfaat.” Kutipan tersebut menjadi alasan saya dapat membagikan salah satu cerita pengalaman berharga di awal tahun 2026, yakni OSIS Mengajar.

Ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar, sempat terbesit di benak untuk menjadi seorang pengajar. Ada separuh bagian dari keinginan di masa kecil saya yang kerap memanggil ketika pamflet rekrutmen pengajar OSIS Mengajar mulai tersebar. Pamflet yang awalnya hanya berlalu lalang di sosial media akhirnya menarik perhatian untuk mencoba memenuhi impian masa kecil. Ternyata keinginan tersebut terwujud 8 tahun kemudian, tepatnya ketika saya menjadi siswa SMA Negeri 1 Magetan melalui OSIS Mengajar.

Hari itu, pertengahan Desember 2025 dibuka pendaftaran pengajar untuk OSIS Mengajar (OSIME), program tahunan yang dirancang oleh sekolah dan dibuka untuk siswa-siswi yang ingin mendedikasikan dirinya selama satu hari sebagai pengajar Sekolah Dasar di daerah dengan akses terbatas. Tahun 2026 adalah tahun ketiga OSIS Mengajar SMA Negeri 1 Magetan dalam perjalanannya berkontribusi di bidang pendidikan di SDN Bedagung 3. Saya sempat tertarik dengan kelas baru yang dibuka, yakni kelas Public Speaking, ditambah kelas ini sesuai dengan minat dan menjadi salah satu bidang yang sedang saya tekuni. Setelah beberapa pekan berlalu, barulah ada sesuatu yang menggerakkan hati saya untuk mencoba mendaftar sebagai pengajar kelas Public Speaking, yakni kutipan yang sempat tertulis di pembuka cerita.

Keputusan yang bulat untuk mendaftar sebagai pengajar membuat saya yakin bahwa ini menjadi batu loncatan untuk menggapai impian masa kecil yang pernah pudar, atau bahkan terlupakan. Saat inilah perjalanan baru dimulai, ada rasa cemas juga bahagia yang membuat saya terus semangat untuk tetap optimis dalam rangkaian rekrutmen pengajar. Untuk mencari terbaik dari yang terbaik, dilakukan seleksi pengajar yang terdiri dari beberapa tahap. Sempat diri ini hampir menyerah karena kebingungan dengan bagaimana cara menyederhanakan konsep Public Speaking untuk adik-adik seusia Sekolah Dasar  dan pikiran “Apa yang harus kuberikan untuk adik-adik disana?”. 

Namun sesungguhnya segala kesulitan pasti ada jalan keluarnya, saya mulai berusaha mengurai benang kusut itu menjadi bagian-bagian kecil. Yakin dan percaya pada kemampuan dan potensi diri sendiri adalah landasan yang menjadi prinsip hidup saya. Mulailah saya menyusun konsep belajar dengan konsep bermain, dengan bantuan beberapa media permainan edukatif yang saya miliki di rumah memberikan ide awal untuk sebuah pembelajaran yang utuh. Satu per satu rangkaian pembelajaran yang saya susun dapat terselesaikan.

Sembari menunggu pengumuman hasil seleksi, saya tetap optimis untuk berusaha mencari ide baru agar pembelajaran terasa menyenangkan. Kalaupun tidak lolos setidaknya sudah mencoba, pikir saya. Melalui doa dan dukungan oleh keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat syukurnya tahap demi tahap berhasil saya lewati. Saya semakin bersemangat karena hanya dengan hitungan jari akan tiba hari yang saya nantikan untuk bertemu adik-adik disana.

Senin 26 Januari 2026, hari istimewa dengan tanggal cantik itu pun akhirnya tiba, dengan hembusan sejuk angin dengan kabut dan embun pagi yang terlalu indah untuk disia-siakan tanpa sebuah kebaikan. Bersama para pengajar lain beserta teman-teman panitia dan guru pembina, kami melakukan persiapan sebelum berangkat menuju SDN Bedagung 3. Memastikan segalanya siap dan tidak ada yang tertinggal untuk memberikan yang terbaik kepada adik-adik disana. Perjalanan terasa sangat menyenangkan karena membayangkan bagaimana antusiasme adik-adik akan kehadiran kami ditambah pemandangan dengan sedikit rintik hujan yang membuat hari itu tidak terlupakan. Setiap jalan yang kami lewati membuat saya bersyukur akan betapa mudah dan besarnya kesempatan untuk bersekolah  tempat saya menimba ilmu. 

Kedatangan kami disambut dengan baik dan hangat oleh para guru dan adik-adik. Terlihat sorot mata yakin akan mimpi besar yang ada di angannya ketika saya mengamati dan mengobrol dengan adik-adik disana, seperti melihat diri sendiri pada 8 tahun yang lalu. Teringat misi saya dengan membawa peran seorang pengajar, saya dapat membuat kesimpulan sekilas mengenai sejauh apa kemampuan adik-adik mengenai pembelaharan yang akan saya sampaikan nantinya.

Kegiatan dimulai dengan upacara bendera, kemudian senam pagi. Mereka lebih mengingat saya dengan nama buah disaat sesi pengenalan yaitu Kak Markisa alih-alih Kak Marissa. Konsep Public Speaking saya sederhanakan menjadi ‘berbicara di depan banyak orang’ agar bahasanya tidak terlalu berat dan tetap dapat diterima oleh adik-adik Sekolah Dasar. Jauh dari apa yang saya bayangkan, mereka terbilang aktif saat kami memberikan beberapa hiburan walaupun ada beberapa yang perlu diberi dorongan untuk menjawab ketika diberi pertanyaan secara personal. Dan itu menjadi tugas saya pada hari itu, membuat mereka lebih percaya diri. 

Petualangan pertama dimulai dengan adik-adik di kelas 4, sedikit tersentuh karena di kelas itulah mimpi sebagai pengajar mulai terbesit di benak. Dengan dua adik perempuan yang selalu menjawab pertanyaan yang diberikan membuat hati saya hangat dan terharu. Sebelum memulai pembelajaran di setiap kelas akan dimulai dengan ice breaking dan perkenalan santai untuk melatih kepercayaan diri adik-adik. Kemudian berlanjut pada adik-adik kelas 6 yang notabene merupakan kelas akhir di jenjang Sekolah Dasar, membuat saya memberikan ekstra tenaga untuk bermain bersama mereka, saya kerap memikirkan bagaimana agar pembelajaran tidak terasa boring dan tetap interaktif.

Bel istirahat pun berbunyi, saya sempatkan untuk mengobrol dengan adik-adik di halaman sekolah agar lebih dekat dengan mereka dan merasa bersahabat. Tidak terasa 15 menit berlalu, petualangan dilanjutkan di kelas 1. Adik-adik yang baru saja menginjak bangku Sekolah Dasar membutuhkan waktu bermain lebih banyak dibandingkan waktu belajar. Saya lebih banyak bermain di kelas 1 dan tidak begitu memberikan materi yang terlalu berat bagi mereka. Dan petualangan ini berakhir pada adik-adik kelas 3, kelas yang terbilang sangat  sekali aktif dan membutuhkan tenaga yang tidak kalah ekstra dengan kelas lain, dengan jumlah siswa yang lebih banyak dari tiga kelas sebelumnya sempat membuat saya  kewalahan, namun dengan bantuan teman-teman panitia, hal itu menjadi sebuah keseruan dan tantangan tersendiri bagi saya untuk dapat menguasai tipe kelas yang berbeda-beda.

Setelah sesi pembelajaran berakhir, kami semua berkumpul di halaman sekolah,  selalu kami motivasi untuk selalu bermimpi setinggi langit. Dengan mendengarkan cerita unik dari mereka, ada doa yang selalu saya terbangkan agar mereka dapat menggapai cita-cita mulianya. Antusias dari adik-adik SDN Bedagung 3 merupakan kebahagian tersendiri bagi saya. Dengan menjadi salah satu pengajar di OSIME #3 ini membuat saya lebih bersyukur akan kemudahan dalam menimba ilmu dan menggapai cita-cita.

Keterbatasan bukanlah penghalang bagi adik-adik untuk bermimpi setinggi langit. Pengalaman di OSIME ini adalah momen paling berkesan dalam perjalanan pendidikan saya, mengajarkan arti tekad dan semangat. Saya berharap ilmu yang kami bagikan menjadi bekal kalian meraih masa depan. Melalui ini pun, saya semakin menghargai jasa para guru yang mengajar dengan sabar dan tulus. Terima kasih para Bapak Ibu guru semoga ilmu yang kalian bagikan terus menyala menjadi cahaya bagi kita semua.

Dengan ini, untuk masa kecil saya,  cita-citamu telah tercapai.

Marissa Aurellia Muzakki 

Pengajar Kelas Public Speaking

Osis Mengajar Angkatan III

SDN Bedagung 3, Panekan

admin
the authoradmin
Think Big, Start Small, Act Now

Tinggalkan Balasan